Konflik Timur Tengah Picu Kenaikan Biaya Logistik Global, MII Ingatkan Dampaknya ke Impor RI
Jakarta, 04 Maret 2026— Eskalasi konflik antara AS-Israel dan Iran di kawasan Timur Tengah memicu efek domino terhadap stabilitas perdagangan global. Pelaku usaha logistik internasional memperingatkan potensi lonjakan biaya operasional yang akan berdampak langsung pada kenaikan harga barang impor di Indonesia.
CEO Mats Internasional Indonesia (MII), mengungkapkan bahwa industri pelayaran sangat sensitif terhadap dinamika geopolitik di Timur Tengah sebagai jalur strategis dunia. Meningkatnya risiko keamanan memaksa perusahaan pelayaran melakukan penyesuaian besar-besaran, mulai dari pengalihan rute hingga peningkatan premi asuransi.
“Situasi konflik geopolitik, pelayaran internasional biasanya menghadapi kenaikan biaya operasional karena faktor keamanan, penyesuaian rute, serta peningkatan premi asuransi kapal,” ungkapnya dalam keterangannya, Kamis (5/3/2026).
CEO MII menekankan bahwa Indonesia tidak luput dari dampak gangguan ini karena aktivitas perdagangan nasional sangat bergantung pada kelancaran jalur laut internasional. Ia mendorong penguatan manajemen rantai pasok agar distribusi barang tetap terjaga di tengah ketidakpastian.
“Industri logistik harus mampu beradaptasi dengan cepat terhadap perubahan situasi global agar arus distribusi barang tetap terjaga meski terjadi ketidakpastian geopolitik,” pungkasnya.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, sebelumnya telah memberikan peringatan serupa. Menurutnya, gangguan pada sentra produksi minyak dunia di Timur Tengah akan memicu gangguan pasokan yang berujung pada kenaikan harga minyak mentah.
“Ya pertama yang terganggu kan pasti supply minyak,” ungkap Airlangga di kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Senin (2/3/2026).
Selain energi, sektor transportasi dan logistik menjadi titik paling rentan. Gangguan jalur pelayaran dipastikan memperlambat arus perdagangan internasional dan mengerek ongkos kirim. Pemerintah berkomitmen terus memantau situasi untuk menyiapkan respons kebijakan yang tepat.
“Balik lagi, kita monitor saja bahwa perang ini lama atau seberapa jauh,” tutup Airlangga.
Artikel ini sudah tayang di Investor.id