News Details

Gandeng Rumah BUMN BRI Jakarta, MII Bongkar Strategi Efisiensi Biaya Logistik Ekspor UMKM
23 June 2026

Gandeng Rumah BUMN BRI Jakarta, MII Bongkar Strategi Efisiensi Biaya Logistik Ekspor UMKM

JAKARTA, 23 Juni 2026 – Banyak pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) bernafsu menembus pasar global, namun sering kali kandas di urusan logistik. Temuan tim riset PT Mats Internasional Indonesia (MII) menunjukkan bahwa mayoritas kerugian eksportir pemula justru dipicu oleh kesalahan teknis sepele, mulai dari tagihan dadakan dokumen di tengah jalan, denda sewa gudang pelabuhan (demurrage), hingga masalah fisik kemasan.

Hal tersebut dibongkar dalam pelatihan “UMKM Go Global: Strategi Hemat Kirim Barang ke Luar Negeri” hasil kolaborasi MII dengan Rumah BUMN Jakarta di Palmerah, Selasa (23/6).

"Banyak yang tekor karena fenomena 'Kargo Angin'. Mereka mengirim barang yang bobotnya ringan tapi makan tempat, seperti keripik, menggunakan kardus yang terlalu besar," ujar Senior Pricing MII, Suci Oktavia, saat memaparkan materi.

"Karena logistik internasional menggunakan logika volumetrik, mereka akhirnya membayar ruang kosong di dalam kontainer. Ongkir membengkak, margin habis." sambung dia.

Selain salah kalkulasi ruang, Suci menyebut hambatan klasik seperti kuantitas barang yang sedikit dan ketiadaan izin ekspor resmi sebenarnya sudah memiliki jalan keluar. UMKM bisa memanfaatkan sistem Patungan Kargo atau Less than Container Load (LCL) untuk menggabungkan muatan dengan pelaku usaha lain dalam satu kontainer agar biaya tetap murah.

Sementara bagi yang belum memiliki badan hukum PT atau izin ekspor, jalur alternatif yang aman adalah menggunakan jasa Sewa Bendera (Undername) dengan meminjam izin resmi milik MII.

Ketatnya Barikade Negara Tujuan

Riset MII juga mengingatkan bahwa ketidaktahuan regulasi lokal di negara tujuan berujung fatal pada pembongkaran paksa kargo oleh otoritas kepabeanan setempat.

  • Amerika Serikat (USA): Mewajibkan seluruh produk makanan, herbal, dan kosmetik terdaftar resmi di FDA (Food and Drug Administration). Tanpa nomor registrasi, barang otomatis disita di pelabuhan.
  • China: Menerapkan sistem GACC yang sangat ketat untuk karantina produk pertanian dan olahan, serta mewajibkan kebersihan kemasan luar bebas dari hama.
  • India: Membuntuti ketat lewat standar label FSSAI dan regulasi bea masuk yang fluktuatif untuk komoditas tertentu.

Untuk memitigasi risiko tersebut, MII membagikan rumus proteksi bagi UMKM. Di antaranya, memastikan akurasi data fisik barang 100% sama dengan Invoice & Packing List guna menghindari "Jalur Merah" Bea Cukai.

Pelaku usaha juga disarankan menggunakan spesifikasi kardus minimal double wall agar tidak hancur saat ditumpuk di kontainer, serta menambahkan buffer kurs sebesar 3% hingga 5% pada kuotasi harga berbasis US Dollar untuk mengantisipasi penguatan mendadak mata uang Rupiah.

"Eksportir harus paham, biaya premi asuransi itu murah. Yang mahal itu kalau kargo rusak di laut lalu modal Anda rugi total," tegas Suci.

Harapan Target Pasar Baru

Lewat kolaborasi strategis ini, MII membidik target jangka panjang untuk mengikis kecemasan psikologis pelaku usaha lokal terkait rumitnya rantai pasok global. Sinergi bersama Rumah BUMN Jakarta ini diharapkan mampu mencetak ekosistem eksportir baru yang tidak hanya berdaya saing secara kualitas produk, tetapi juga melek secara taktis operasional logistik.

 

Tentang PT Mats Internasional Indonesia (MII):

PT Mats Internasional Indonesia (MII) adalah penyedia layanan logistik end-to-end yang berbasis di Jakarta. Berfokus pada pengelolaan kargo udara, kargo laut, pergudangan, kepabeanan, hingga armada trucking darat, MII berkomitmen menjembatani sektor industri dan UMKM nasional masuk ke dalam ekosistem perdagangan global yang andal.

Tags

riset mii eksportir pemula rugi biaya logistik ekspor umkm go global rumah bumn jakarta pt mats internasional indonesia kargo angin sewa bendera ekspor